Panen, Harga Gabah di Indramayu Masih Mahal

Cirebon – Harga gabah dari awal panen hingga memasuki puncaknya saat ini tak kunjung mengalami penurunan. Bulog pun masih kesulitan menyerap gabah dari petani.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris KTNA Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sutatang, Senin 20 April 2015. “Saat Presiden Joko Widodo melakukan panen di Gabuswetan beberapa waktu lalu, panen di Indramayu baru 25 persen,” kata Sutatang.

Saat itu harga gabah kering panen (GKP) terendah yaitu jenis kebo masih dalam kisaran Rp 3.700 hingga Rp 3.800 per kilogram. Sedangkan untuk jenis gabah kering jenis IR sudah di kisaran Rp 4.200 per kilogram.

Karena panen baru 25 persen, diprediksi harga gabah masih akan terus turun terutama saat April. Namun seiring dengan sudah luasnya hasil panen saat ini, harga gabah justru tak kunjung mengalami penurunan. Saat ini harga gabah jenis kebo masih di kisaran harga Rp 3.700 hingga Rp 3.800 per kilogram.

Memang, menurut Sutatang, ada gabah jenis kebo yang dihargai Rp 3.500 hingga Rp 3.600 per kilogramnya. Namun itu dijual oleh buruh tani yang baru saja derep atau melakukan panen. Sehingga paling banyak mereka mendapatkan upah sebanyak 50 kg gabah. Karena dijual dalam jumlah sedikit, harga gabah pun dihargai murah. Namun untuk penjualan dalam skala besar, harga gabah jenis kebo masih tinggi dan tidak masuk dengan HPP pemerintah sebesar Rp 3.700 per kilogram.

Padahal, tutur Sutatang, saat ini di Kabupaten Indramayu sudah memasuki puncak panen. Areal yang panen sudah mencapai lebih dari 50 persen. Bahkan di setiap desa saat ini pemilik lahan sudah berlomba-lomba mencari buruh tani untuk melakukan panen. puncak panen diprediksi akan berlangsung hingga pertengahan Mei mendatang. Ada pun daerah terakhir yang akan melakukan panen tersebar di Kecamatan Krangkeng, Kecamatan Losarang, Kecamatan Balongan, dan Patrol yang sebelumnya terlambat melakukan tanam.

Kondisi ini membuat Sutatang ikut prihatin dengan Bulog. “Bulog indramayu jadi kesulitan menyerap gabah dari petani,” katanya. Padahal, kepala Bulog Indramayu sudah berkeliling hingga ke penggilingan-penggilingan kecil untuk bisa menyerap langsung gabah dari petani.

Mereka juga melakukan terobosan dengan membuat kerja sama langsung dengan gapoktan asalkan sudah ada rekomendasi dari dinas terkait. “Seharusnya harga gabah kering panen Rp 4.000 per kilogram. Baru Bulog bisa menyerap lebih banyak lagi,” katanya.

Sementara itu Kepala Bulog Sub Divre Indramayu, Attar Rizal, mengatakan jika penyerapan yang dilakukan pihaknya baru sebanyak 7 ribu setara beras. Jumlah ini masih jauh dari target penyerapan di bulan April sebanyak 11 ribu ton.

Faktor yang menjadi penghambat, lanjut Attar, diantaranya cuaca yang tidak menentu. “Hujan masih sering turun sehingga membuat waktu penjemuran lebih lama,” kata Attar. Tidak hanya itu, penggilingan pun kesulitan untuk mencari buruh tani akibat harus berebut dengan petani yang akan melakukan panen.

Naiknya harga gabah pun menjadi factor penyebab lainnya. Sebelumnya gabah jenis kebo yang bisa dibeli sesuai dengan HPP sebesar Rp 3.700 per kilogram, kini sudah kembali mengalami kenaikan. Harga gabah jenis kebo saat ini di kisaran Rp 3.800 bahkan ada yang Rp 4.000 per kilogram.

“Karena pasar saat ini ikut menyerap gabah jenis ini,” katanya. Sehingga mereka pun harus berebut dengan pasar. Namun, lanjut Attar, pihaknya akan terus memaksimalkan penyerapan terutama hingga berakhirnya panen rendeng.

Related Post

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>