Konflik Kepemudaan, Ini Hasil Survey Masagena

Kegiatan pemberdayaan pemuda dalam rangka pengembangan Demokrasi tanpa kekerasan yang di lakukan di tiga Kota secara bersamaan pada tanggal 6-11 Juni 2017 lalu yang melibatkan sekitar 100 responden di tiap daerah yang di fasilitasi oleh Lembaga UNDEF. Pada kegiatan tersebut dilaksanakan oleh LP3ES di Jakarta, Yayasan Masagena di Makassar, dan Ilalang di Papua.

Ketua Yayasan Masagena menjelaskan bahwa “perkembangan konflik yang ada di Makassar merupakan konflik pemuda, sedanfkan yang menjadi pemicu pada konflik tersebut atas dasar kesalah pahaman. Kegiatan tersebut juga bertujuan untuk memperkenalkan aplikasi berbasis online sebagai aplikasi warning atau pelaporan terkait potensi dan resolusi konflik”. Ungkap Samsang kepada matarakyatmu.com, Kamis (23/11).

Pada survey tersebut yang dilakukan oleh Yayasan Masagena di Makassar, yang menjadi pemicu konflik di dominasi konflik sabotase fasilitas umum 79%, menyakiti diri sendiri 73%, poster bernada kebencian 62%, coret-coret fasilitas umum 66%, menyebabkan kemacetan 46%, menyampaikan aspirasi dengan cara bakar ban 38%, konfoi kendaraan 33%, tarian perang 12%, menyampaikan aspirasi dengan demonstrasi 4%, aksi tetrikal 3%, aksi bakar lilin 2%, sementara aksi bagi bunga hanya sekitar 1%.

Hasil survey juga menunjukan bahwa yang mendominasi konflik tersebut adalah konflik antar Mahasiswa sekitar 21,8%, konflik antat kampung 52,8%, konflik antar geng 16,8%, konflik pilkada 13,9%, konflik kebijakan publik 12,9%, konflik antar suku 7,9%, konflik perebutan sumberdaya alam 7,9%, sedangkan konflik antar agama sekitar 3,0%.

Samsang menambahkan “kegiatan tersebut juga untuk merekrut pemuda sebagai mitra dalam pencegahan konflik kepemudaan. Peserta juga dibekali dengan pengetahuan terkait pelaporan tanda akan potensi dan munculnya konflik yang ada”. Jelasnya

Sumber. matarakyatmu.com

Related Post