Sekolah Riset

Sekolah Riset LP3ES II

29 Juni – 1 Juli 2020, Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Melaksanakan Sekolah Riset Ke-2 secara virtual melalui zoom meeting. Kegiatan dihadiri oleh 33 orang yang berasal dari provinsi Aceh, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Kalbar, Kalteng, Sulsel, Sultra, Sulut dan Papua Barat. Dengan profesi peserta adalah mahasiswa / Fresh Graduate, Dosen, Aktifis NGO, Peneliti, Jurnalis, Komisioner KPU dan Tenaga Ahli DPR.

Pada pembuka Sekolah Riset II, Fajar Nursahid selaku Direktur Eksekutif LP3ES menyampaikan bahwa riset dan survey politik belakangan menjadi kegiatan yang sangat negatif citranya karena hanya menyoal pemenangan partai politik dan dukung mendukung suatu calon. Padahal riset dapat bermanfaat untuk membangun kebijakan menjadi lebih baik yang berbasis evidence based policy melalui metodologi yang tepat.

“Riset dan survey politik terutama, belakangan,menjadi semacam kegiatan yang diblamming, menjadi kegiatan yang sangat-sangat negatif citranya, karena kemudian hanya berurusan dengan pemenangan, lalu dukung mendukung politik, lalu terkait dengan hal yang itu mengarahkan orang untuk berposisi A atau B, saya kira LP3ES tidak menampik fenomena itu”, ujarnya.

Selain itu Fajar menambahkan bahwa sekarang ini kita hadir pada situasi banyak sekali kebutuhan dimana policy-policy pemerintah dan lembaga-lembaga publik itu dipastikan memiliki dukungan-dukungan faktual melalui evidence based. Karena pada dasarnya dibalik semua kebijakan yang ada baik ditingkat lokal dan pemerintah mestinya mempunyai riset terlebih dahulu.

“Kebijakan ganjil genap di Jakarta, misalnya dibalik policy itu tentunya ada risetnya, LP3ES pernah diminta melakukan riset tentang kebijakan ganjil genap, itu dilakukan dalam konteks yang lebih baik gitu ya setelah Asian games berlalu”, ujarnya.

Untuk itu riset kata Fajar, mempunyai banyak kegunaan, yang bukan semata mata untuk dukung mendukung dalam kontestasi politik, tetapi merupakan skill yang bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih akademik, dan menjadi kompentesi teknis yang bisa dipergunakan untuk hal hal yang bermanfaat dalam menopang kebijakan pembangunan/ policy development. Untuk itu kemampuan riset sangat berguna untuk masyarakat yang bekerja dalam lembaga publik, DPR, Akademisi atau bahkan mahasiswa.

Didik J Rachbini sebagai ketua dewan pengurus LP3ES yang juga hadir dalam sekolah riset II LP3ES ini, dalam pemaparannya beliau juga menyampaikan bahwa riset merupakan sebuah proses dimana suatu riset atau penelitian mesti diawali oleh pertanyaan masalah yang akan dijawab oleh peneliti. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa riset merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

  “Jadi kata kuncinya cara ilmiah cara sistematis dan, cara yang objektif untuk mendapatkan informasi atau data”, ujarnya.

Kemudian dihari terakhir kegiatan sekolah riset II juga disampaikan oleh Gus Hamid bahwa dalam melakukan penelitian maupun riset, etika menjadi hal yang sangat penting.  Beliau menyampaikan bahwa para peneliti harus menegakkan etika sejak tahap penyusunan pertanyaan hingga ketika melakukan wawancara.

“Ketika penyusunan pertanyaan, para peneliti mesti membangun pertanyaan-pertanyaan dengan menerapkan norma-norma kebahasaan, selain tetap teguh pada prinsip-prinsip dan metode-metode penggalian informasi. Demikian pula pada tahap wawancara, para peneliti harus menghindarkan diri dari kemungkinan melanggar kesopanan dan norma sosial lainnya. Bahkan, dengan cara demikian sesungguhnya akan diperoleh informasi yang valid, bukan jawaban-jawaban sekenanya, apalagi yang bohong”, Ujarnyadalam materi yang disampaikan Gus Hamid.

Dengan begitu, hasil penelitian tersebut juga akan bisa dipertanggungjawabkan baik secara moral maupun sosial, selain memperoleh temuan penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Setelah sesi materi selesai, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dengan seluruh peserta kegiatan.

Penulis : Teddy Nugroho (Peneliti Muda LP3ES)

Author

Teddy Nugroho